RSS
Facebook
Twitter

Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2014

Prinsip Rumah Kebakaran


"Kalau kamu mau ngajak orang, pakenya Prinsip Rumah Kebakaran," Katanya.
Ah, sudah sejak sekian lama akhirnya kudengar lagi kata-kata petuah darinya. Beruntung pagi ini aku berangkat lebih awal ke rumahnya sehingga begitu selesai dengan rutinitas pagi yang kujalani beberapa waktu terakhir ---berkunjung ke rumah beliau setiap pagi, menabung untuk bekal nanti---, aku bisa mendengar inspirasi pagi lagi darinya.

"Udah pernah dengar belum?" Lanjutnya dengan pertanyaan.
"Baru, baru kali ini." Kataku sambil memasang ekspresi antusias, ingin sekali mendengar penjelasannya.

"Iya, kalau kamu ngajakin orang apalagi kalau ngajakin buat yang baik-baik, prinsip ini. Coba ceritakan situasi jika rumahmu kebakaran dan ada banyak orang di dalamnya sedang terlelap terbuai mimpi."
Malah aku yang diminta bercerita, "Kalau aku menjadi satu-satunya orang yang bangun, ketika melihat api saya langsung berteriak berharap semua bisa bangun kemudian keluar bersama. Mungkin ditambah juga sama acara gedor-gedor pintu, apapun yang bisa membuat mereka menyelamatkan diri segera."
"Normal."
"Eh?" Maksudnya? Sudah pasti begitu, kan?

"Apa ada orang yang posisinya sama denganmu di ceritamu yang dengan keluar nyelametin dirinya sendiri karena dia nggak ngerti cara madamin api dan nggak bangunin karena dikira bakal ngeganggu?" Dia bertanya lagi.
"Kayaknya kalau ada api besar di rumah langsung refleks bergerak deh. Respon paling umum berteriak : TOLONG! Kemudian yang lain bisa tersadar dan kebanyakan panik lalu keluar tanpa memikirkan apa-apa kecuali harus selamat."

"Nah, ngajakin orang buat kebaikan juga gitu. Kalau kita nunggu ngerti, kita nunggu bisa, bisa jadi malah kitalah yang bikin banyak orang jadi rugi. Bayangin kalau kita keluar rumah yang kebakaran sendirian terus yang lain masih di dalam rumah dan akhirnya mati terbakar?"
"Bisa-bisa kita dituduh tersangka pembunuhan."
"Hahaha. Insting detektifmu keluar lagi, eh?"
Dalam diam aku mengernyitkan dahi melihatnya. Hei, yang ingin kudengar itu penjelasanmu!

"Orang-orang di dalam rumah emang bakal selamat kalau apinya segera dipadamin. Tapi, apa kita harus menunggu diri kita bisa madamin api baru kita bisa menyelamatkan mereka? Keburu jadi mayatlah mereka nungguin kita lama. Yang penting kita ada usaha buat nyelametin mereka."
"Ya, bener sih."
"Ngajakin berbuat baik. ngingetin sesama, nggak perlu nunggu kita expert 100%. Yang penting kita udah usaha buat ngerti dan bisa tentang apa yang kita ajak, sama yang penting kita harus punya kemauan. Kita ya cuma ngarep selamat sama-sama yang lain ke Allah. Emang mau masuk surga sendirian? Ya, walau nggak tentu akhirnya masuk surga. Yang penting usaha."


Rabu, 03 September 2014

Sup Daging Sapi Jahe dengan Saus Lemon

 

Mizutaki adalah jenis makanan jepang dengan ciri khas sup berkuah panas berisi daging dan sayuran. Daging yang biasanya dipakai adalah daging ayam. Ceritanya sih pengen coba buat masakan ala nihon dan ketika menemukan resep Tori no Mizutaki, saya tertarik untuk segera membuatnya! Ya, karena sepertinya mudah sih.
Walau resepnya terbilang mudah dan tidak aneh-aneh, sayangnya saya kurang begitu suka dengan daging ayam. Niat awalnya hanya mengganti daging ayam dengan daging sapi tapi ujung-ujungnya saya sukses membuat Mizutaki dengan resep yang sudah jauh melenceng. 
Yosh!
Ini dia resep hasil eksperimen saya, boleh dicoba dan rasakan sensasi hangat menyegarkan di lidah Anda.

Sup Daging Sapi Jahe dengan Saus Lemon
 
Bahan
100 gram Daging sapi segar
75 gram Sawi putih (kira-kira 5 helai daun sawi)
3 gelas Air 

Bumbu 
1 sdt Garam
1 siung Bawang putih
2 cm Jahe
1/2 sdt Merica bubuk
1/3 sdt Royco sapi

Saus
3 sdm Kecap manis
1 sdm Perasan lemon
1 buah Cabe rawit setan
3 sdm Air

Cara Memasak
Sup
1.  Daging sapi dipotong dadu 2 cm, rebus hingga lunak dalam air mendidih; tiriskan.
2.  Haluskan bumbu.
3.  Buang bagian bawah sawi yang keras lalu iris-iris daunnya.
4. Masukkan air dan daging pada panci kecil; setelah mendidih masukkan bumbu.
5.  Setelah bumbu meresap, masukkan sawi ke dalam panci; aduk sebentar; matikan kompor.
6.  Sajikan dalam mangkuk.
Saus
1. Masukkan kecap, perasan lemon,dan potongan cabe ke dalam mangkuk kecil; aduk rata.
2.  Masukkan air
3. Siap disajikan bersama sup.

Resep ini hanya cukup untuk membuat 1 porsi. Hehehe. Namanya eksperimen, jadi saya coba sedikit dulu. 

Bagaimana cara memakannya?
Pada setiap suapan, ambil daging dan sawi dengan sendok makan lalu siram saus lemon di atasnya (aslinya Mizutaki itu dicelupkan ke Ponzu Sauce). Hidangan ini bisa lebih sedap jika dimakan bersama nasi putih. 

Untuk inovasinya, bisa tambahkan berbagai macam sayuran di sup. Yang berbeda dari sup yang biasanya adalah bahan jahe yang ikut dihaluskan.  tadinya sempat kepikiran rasanya aneh, tapi ternyata... Ini adalah olahan daging sapi yang layak dicoba!

Dua orang teman sekontrakan sudah membuktikan cita rasanya yang unik tapi tetap menyenangkan di lidah.

NB : Memasak bisa jadi alternatif untuk me-refresh otak.

Selasa, 16 Juli 2013

Untukmu, Terima Kasih,.. ^^


Chrysanthemum (Bunga Krisan, Bunga Seruni)
"Kamu adalah teman yang luar biasa."

Untuk bisa sampai sekarang, terima kasih untuk setiap support dan inspirasi.
Untuk bisa sampai di sini, terima kasih karena selalu ada untuk menemani di setiap jalan perjuangan yang pernah ditapaki. Baik yang lapang maupun yang berhalang rintang.
Untuk bisa menjadi seperti ini, terima kasih untuk selalu mengingatkan dan menasihati tanpa lelah dan bosan.
Untuk bisa berpikir jernih seperti ini, terima kasih atas banyak pelajaran dan ibrah dari pengalaman-pengalaman yang ada.
Untuk bisa selalu tegar bertahan seperti ini, terima kasih untuk selalu meyakinkan bahwa sebesar apapun kesalahan yang telah diperbuat, selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Untuk bisa meningkatkan kesungguhan seperti sekarang, terima kasih untuk tak bosan menyadarkan betapa pentingnya member banyak kemanfaatan untuk manusia dan kehidupan.
Untuk bisa senantiasa meluruskan niat dan memperbaiki diri, terimakasih atas segala teguran dan saran.
Untuk bisa menerima dan mensyukuri semua yang ada sampai saat ini, terima kasih.

Semoga selalu ada kemudahan dalam setiap langkah, kawan! :)

Senin, 27 Mei 2013

Memulai dengan Benar


Pernah kita tertarik untuk melakukan sesuatu.
Ditambah dengan semangat dari dalam jiwa, maka kita terus dan terus melakukan yang ingin kita lakukan.
Sedikit demi sedikit dan lama-lama kian banyak, satu per satu target tercapai.
Polesan rasa percaya diri membuat kita tetap yakin dengan melakukan apa yang biasa kita lakukan itu dengan cara yang sama.
Tanpa sadar, ternyata apa yang selama ini telah kita capai terlihat cacatnya.
Dan kita pun berpikir sedikit celah keburukan jika terus dipertahankan maka akan bertambah banyak walau itu bukan keinginan kita.
Maka, kupikir lebih baik memulai dari awal dengan benar agar kita tidak menghabiskan waktu dua kali lebih banyak dan energi ekstra hanya untuk memperbaiki banyak kesalahan yang kita perbuat dari awal sampai saat ini.


Dan yang salah memang harus dibetulkan, bukan diabaikan agar kehidupan ini semakin indah... :)

Jumat, 19 April 2013

Ditilang? Yuk Sidang Tilang ^^

Cerahnya mentari akhir pekan nampaknya hanya mau sedikit saja memberikan kecerahannya pada pagi itu. Setelah malamnya 'menginap' di sebuah Rumah Sakit di daerah Ungaran untuk menemani Hanako yang sedang sakit, saya bersama Kirei, seorang teman yang juga sama-sama menginap, bergantian shift jaga dengan Yuuki.

Berhubung malamnya tidak sempat pulang ke kos, jadi pagi-pagi harus cepat pulang. Saya dan Kirei pulang dengan menaiki motor Yuuki. Saya yang di depan. Awalnya biasa-biasa saja, aman-aman saja. Sampai tak lama sejak melewati perbatasan Ungaran-Semarang ada razia pagi untuk para pengendara motor. Terbersit niat untuk pura-pura tidak lihat dan terus jalan, namun Allah tidak menghendaki hamba-Nya ini bertindak bodoh.
Seorang polisi wanita memberhentikan kami dan saya pun memarkirkan motor di pinggir jalan. 

"STNK." Langsung saya tunjukkan STNK begitu beliau selesai bicara dengan nada datar itu.

"SIM." Nah, ini dia! Saya pun tersenyum dan berkata, "Tidak bawa, bu."

"Tidak bawa?" Selidiknya kemudian.

"Tidak bawa karena tidak punya." *tuing

Ya, akhirnya STNK pun dikumpulkan dan semua orang yang memiliki pelanggaran dipanggil satu per satu menurut identitas pada STNK. Kami yang melanggar diberi dua pilihan, pakai uang damai Rp. 60.000,- atau mengikuti sidang di pengadilan. Waktu itu saya berpikir, ini pertama kalinya ditilang, ah sayang banget harus merelakan Rp. 60.000,- untuk Pak Polisi yang diragukan akan dikemanakan uang itu, dan paling penting di dompet sudah tidak ada uang lagi kecuali uang recehan. Hehehehe. Saya diberi slip merah dan memilih sidang saja walau harus menunggu 19 hari lamanya.

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu, saya diantar oleh seorang teman yang baik hati, Anko, dan sampai pukul 08.53 WIB.

Sering sih melewati Pengadilan Negeri Semarang kalau mau pulang kampung, tapi ini kali pertama masuk dan mengikuti sidang di sana. Beberapa hari sebelum sidang, saya diberi tips 'n trik mengikuti sidang tilang dari seorang teman yang berpengalaman.  Selain itu, malam sebelum sidang saya iseng-iseng browsing perihal sidang tilang ini, dan ceritanya macam-macam dan kebanyakan kok konyol ya? Hehehe.

Begitu sampai ada seorang bapak-bapak bertanya, "Mau sidang tilang, mbak?"

"Ya, pak." Jawabku singkat.

"Mau diambilin atau ambil sendiri?"

"Ambil sendiri saja, pak."

Aha! Banyak calo yang menawarkan diri untuk menggantikan hadir di persidangan. Ok, kita analisa cepat. Pertama, kalau digantikan calo perjuangan datang ke pengadilan agaknya jadi kurang berarti. Kedua, kalau digantikan lebih baik saban hari langsung bayar uang damai saja ke polisi. Toh, sama-sama ada uang plusnya. Ketiga, saya akan membuktikan bahwa calo itu ada 3 macam seperti kata orang-orang di suatu forum dunia maya. Satu, orang biasa saja. Nah, ini  yang saya temui ketika sampai. Dua, bapak-bapak memakai kaos hijau. Benar, saudara-saudara, saya melihat bapak-bapak berkaos hijau sedang 'mencari korban'. Tiga, tukang parkir. Awalnya saya tidak percaya. Tapi ternyata memang ada.

Kemudian, saya menuju tempat khusus sidang pelanggaran lalu lintas. Sebelum memasuki ruang sidang, cek nomor urut terlebih dahulu di papan pengumuman. Dan saya mendapat nomor urut 720 dari 1192 orang. Ruang sidang dibagi 2. Ruang Sidang 1 dari 1 sampai 850, sisanya di Ruang Sidang 2.

Sidang sudah dimulai dari tadi dan saat saya baru mengetahui nomor urut, pelanggar yang disidang baru sampai urutan 40. Karena khawatir menunggu terlalu lama, saya persilakan Anko untuk pulang. Sendirian bukan berarti sepi kan?

Ternyata sidang memang berjalan cepat seperti yang dikatakan teman-teman.  Setelah hampir 1 jam, akhirnya nomor urut saya dipanggil oleh Bapak Pemanggil Nomor Urut Pelanggar. Karena yang peserta sidang banyak, maka tidak dipanggil satu-satu melainkan langsung 20-30 orang. Setelah dipanggil, jangan lupa langsung memberikan slip merah di tangan kepada Bapak yang memanggil tadi karena jika yang selanjutnya sudah dipanggil dan kita lupa memberikan slip maka dengan terpaksa kita harus menunggu lagi ulangan panggilan setelah sampai nomor urut terakhir dipanggil.

Setelah itu, Hakim Ketua memanggil nama pelanggar dan menanyakan secara singkat apa yang telah dilanggar. Rata-rata kesalahan pelanggar adalah tidak bawa/tidak punya SIM, salah belok, tidak menyalakan lampu, dan helm tidak standar. Denda langsung diumumkan dan kisaran denda hanya sekitar Rp. 25.000,- sampai Rp. 30.000,- saja dan akan dimasukkan ke kas negara. Nah, ini lebih jelas kan uangnya kemana? Saya sendiri dikenakan denda Rp. 30.000,-. 1/2 harga uang damai dengan Pak Polisi.

Hakim telah memutuskan hukuman dan mempersilakan para pelanggar keluar untuk membayarkan kewajiban di loket. Setelah lunas, maka barang jaminan (SIM/STNK/yang lain) dapat diambil kembali kemudian pulang dengan tenang.

Bagi siapapun, lebih baik Peraturan Lalu Lintas yang ada bisa diikuti. Saya jadi (agak) jera membawa motor di daerah potensi razia. Apapun, pengalaman pertama  (dan semoga nggak lagi) tidak buruk juga. Hehehe. 

Senin, 15 April 2013

Euforia UN, Ujian Nasional

Hari ini...

Ada yang senang, inilah detik-detik terakhir menjelang lulus SMA.
Gak nyangka, bentar lagi gue jadi mahasiswa!
Ada yang sedih, karena tak ingin cepat-cepat melepas masa SMA. 
Masa-masa SMA adalah masa-masa paling menyenangkan!
Ada yang dengan tenang berangkat dari rumah menuju medan perjuangan.
Biasanya yang udah ber-DUIT nih. (Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal)
Ada yang berangkat dengan mengecek kartu SIM udah diganti apa belum
Biar gampang dapet jarkom jawaban UN, guys! Nah, lho!


Yah, mungkin begitulah kira-kira sebagian yang dilakukan oleh adik-adik kita yang hari ini katanya mau Ujian Nasional (UN) SMA. Menurut saya UN itu fenomena biasa saja (sekarang biasa, waktu pas dulu ngerasain juga ada deg-degan lah ya), yang juga dibilang tak biasa (cuma ngerasain 3 kali, alhamdulillah). UN itu ibaratnya garis batas yang mau tidak mau harus dilewati, garis penguji kelayakan apakah nanti pelakunya akan maju ke jenjang selanjutnya atau ada menanggung malu karena tak berhasil. Resiko tidak lulus memang berat, namun bukan berarti bisa memakai segala cara untuk lulus.

Seorang sahabat perjuangan memberikan kicauan semangat inspiratifnya di twitter pagi ini.

Semangat pagi! Buat adik-adik yang UN, semoga dimudahkan ya... :D
Kalian terlalu pintar untuk takut dengan UN... Jadi, santai aja ya... Jangan panik :) inget Allah.. inget Allah :)
Adik-adik, kalian terlalu pintar untuk ga lulus :) kalian terlalu pintar untuk lulus dengan cara yang melanggar aturan :)
[@taufikarahmat]

Allah akan selalu bersama hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya kan?
Dan itu jadi mengingatkanku pada 4 tahun yang lalu.


Tahun 2009...

Untuk UN, kuyakin setiap orang akan melakukan segala persiapan untuk menghadapinya. Baik dengan jalan yang lurus-lurus saja maupun yang banyak belok-beloknya. Yang pasti untuk satu tujuan yang sama, LULUS UN!

Alkisah, ada seorang sahabat yang memberikanku pelajaran yang luar biasa yang sangat menginspirasi dan sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam memori. Banyak hal yang bermakna yang kudapatkan dari sosok yang sederhana itu, termasuk tentang UN. Namanya Rianka, nama samarannya tentu saja.

Kulihat dia sebagai orang yang rajin dan sangat peduli dengan orang-orang di sekitar. Bagi orang yang terkadang terlalu keras kepala dan cuek sepertiku, dulu aku berpikir, "Kok ada ya orang yang kayak gini? Semua orang adalah yang utama untuk dibahagiakan, baru dirinya sendiri." Tapi lambat laun, aku pun tahu dan sadar bahwa sebenarnya semua orang bisa seperti itu. Karena itu, dia punya banyak teman dan sangat dipercaya untuk menjadi seseorang untuk berbagi dan tempat curhat. Ya, ada saja solusi yang dia tawarkan. Sama sepertiku, dia memiliki idealisme yang sama denganku : Say No to 'Menyontek', Keep Fighting and Pray 'cos Allah will help us.

Jadi, dalam menghadapi UN ini pastinya dia rajin belajar. Berkebalikan, jujur saya dulu ngeri juga kalau tak bisa lulus UN, tapi saya yakin tak belajar secanggih sahabat saya itu. Kata-kata hebat karena terlatih itu memang benar, yang sering berlatih tentunya akan jadi lebih sigap. Sama, UN pun begitu. Bagi orang yang berotak rata-rata memang sombong namanya kalau tidak mau belajar menghadapi ujian yang sakral ini. Semakin banyak belajar dan mengerjakan soal, pasti nantinya bisa. Begitu idealnya.

Akhirnya tibalah waktu UN. Di saat hampir semuanya mengganti nomor hp menjadi satu provider yang sama, di saat banyak yang membawa hp lebih dari dua ke ruang ujian, di saat kode-kode siap dilancarkan, sahabat saya itu mengerjakan soal dengan tenang. Yah, walaupun tidak melihat (secara, saya duduk paling depan, depan-depanan sama pengawas, mana berani tengok-tengok). Oke, tetap calm saat menghadapi ujiian.

Waktu ujian selesai, ketika bertemu dengan gadis berjilbab itu, seperti biasanya dia menanyakan bagaimana, bisa tidak atau hal-hal lain yang bisa ditanyakan saat itu. Dan begitu seterusnya. Ini tinggal berdo'a yang banyak, minta ke Allah.

Kemudian, tibalah hari dimana diumumkannya kelulusan UN.
deg... deg... deg...

Ketika itu saya lagi siap-siap berangkat ke sekolah untuk mengetahui jerih payah selama ini berhasil atau hanya sia-sia. Ada sebuah panggilan masuk.

KM, Ketua Murid is calling

"Assalamu'alaikum." Kuawali dengan salam.
"Wa'alaikumsalam, Hika?" Jawabnya memastikan.
"Kamu jangan kaget ya." Baru mendengar ini, serasa jantung saya mau copot. "Tadi aku ditelpon Pak Kogoro (Wali Kelas)." Ditelpon? Ngapain? Di hari pengumuman UN, jangan-jangan... "Tapi kamu jangan marah atau sedih." Dari cara bicaranya, malah dia yang terdengar sedih.
"Hah? Kenapa?"
"Di kelas kita ada 2 orang yang ga lulus."
Aaaaa.. Beneran dulu ingin rasanya diri ini berteriak. Jangan-jangan saya! Kan saya   nggak mau dikasih contekan.
"Si-siapa?"
"Pasti kamu nggak nyangka. Aku juga nggak nyangka soalnya."
Tambah penasaran. Jangan-jangan benar saya salah satunya.
"Teman dekatmu..." Deg! "...dan satunya lagi..." ia berhenti sejenak. "...Fumiko!"

Masya Allah!!!!
Saya lulus dan teman saya tidak. Kenapa juga Fumiko? Nggak saya?
Saat itu saya berpikir lebih baik saya saja yang sekalian tidak lulus.
(Tapi sekarang mikir ulang, kok dulu bisa berpikiran semengerikan itu ya? Hhe. Dasar.)

Ok, perjalanan ke sekolah waktu itu adalah perjalanan yang sangat tidak tenang sepanjang sejarah sekolah. Dan setelah sampai di sekolah saya harus pura-pura tidak tahu tentang kabar ini.

Awalnya, memang normal-normal saja ketika sampai di sekolah. Sampai akhirnya saya sadar Rianka tidak berangkat dan mulailah ada yang memberitakan dia adalah salah satu yang tidak lulus. Enth siapa yang memulai.


Ujian tidak datang pada orang yang tidak tepat.

Kita lihat perbedaannya.

Fumiko sudah menangis histeris karena dinyatakan tidak lulus karena ada salah satu nilai mata ujian yang tidak keluar. Mendengarnya, seperti hidup ini sudah berada pada batasnya. Banjir air mata, banjir kesedihan dibarengi dengan isak tangis yang menyayat hati baik dari dirinya dan keluarganya, serta teman-temannya pun ikut mengharubirukan hari itu.

Rianka.
Bagaimana mengatakannya?
Dia memang dinyatakan tidak lulus karena nilainya memang kurang. Tapi dia JUJUR, saudara-saudara. Tak ada cara curang yang ia lakukan saat UN.
Dia orang baik dan orang baik banyak yang menyayangi.
Kami sedih dan sangat sedih.
Namun, ketika kami datangi rumahnya. Apa ini? Tidak seperti mendatangi teman untuk menghibur. Ini seperti main. Tidak ada air mata, tidak ada kesedihan darinya. Yang ada adalah kami sedih dan dia yang menghibur dan menguatkan!!! Dia seperti tanpa beban dan sudah menerimanya dengan lapang dada, subhanallah! Kami yang sedih dan dia menghibur dengan tawanya! Satu hal yang tak pernah kubayangkan, dia meng-update status FB-nya dan memberitahu pada dunia bahwa dia adalah salah satu dari sekian banyak siswi tak lulus UN tapi yang berbeda darinya, dalam tulisannya di akhir dia menyemangati kita semua! Subhanallah!

Bahkan sekeras apapun guncangan tidak bisa merobohkan hatinya yang kuat.

Selanjutnya, Fumiko bisa dinyatakan lulus karena nilainya bisa keluar pada akhirnya. Rianka ikut lagi ujian penyetaraan di tahun yang sama. Fumiko, sudah jarang kudengar kabarnya. Rianka, saat ini masih lancar silaturahim terjalin walau tidak bertemu langsung. Di saat yang lain masih banyak yang mencari tempat kuliah, Rianka sudah dapat walau hanya sampai jenjang D3. Sekarang Rianka sudah bekerja di tempat yang nyaman dan saya masih jadi mahasiswi tingkat akhir. Saya do'akan bisa lanjut S1 dan nanti bisa bertemu di bawah guguran bunga sakura pada suatu musim semi di Jepang. Hehehe.

Tulisan ini ditulis bukan dengan maksud untuk membuat ragu adik-adik SMA yang berniat jujur saat mengerjakan UN. Banyak orang yang dengan kejujurannya itu sukses. Namun setiap orang telah disediakan jalannya masing-masing. Apapun yang seharusnya sampai pada kita maka akan sampai dan yang tidak seharusnya sampai, tidak akan sampai pada kita.



Semua orang bisa pintar.
Tapi banyak yang tidak kuat dengan ujian mental yang mengakibatkan krisis kepercayaan diri.
Semua orang bisa menang.
Tapi untuk jujur, tidak semua orang bisa melakukannya. Maka berbanggalah dan perbanyak syukur kepada-Nya.

UN, Ujian Kepercayaan Diri.
Selamat menikmati!

Ingat Allah, ingat orang tua yang selalu mendo'akan kita agar selalu berada dalam kebaikan.

Selasa, 01 Januari 2013

Hiduplah seperti Matahari


Matahari.... 
Dengan mengikuti perintah Pencipta-Nya, ia selalu hadir setiap pagi untuk menghangatkan, untuk menyinari, dan untuk memberi semangat pada dunia.


Hiduplah seperti matahari
Ia sebarkan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi seluruh makhluk di bumi Allah
Tanpa ada rasa pamrih, tanpa ingin mendapat pujian
Semua karena Allah

Pagi, saatnya ia membangunkan semesta.
Ia tularkan semangat positif untuk mengawali hari
Hari-hari yang luar biasa
Hari-hari yang istimewa

Sinarnya selalu menghangatkan
Bersama angin, ia bawakan lantunan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir
Dan itu tak akan terhenti kecuali dengan izin-Nya

Ia kerahkan segala potensi yang ada dalam diri
Selalu memberi walau tahu pada suatu saat ia akan dikeluhkan
Selalu menyinari walau tahu pada suatu saat ia tidak diindahkan
Ikhlas dan istiqomah untuk melakukan yang terbaik

Senyum indah pun terlukis pada wajah-wajah itu.
Wajah-wajah yang penuh kesungguhan, harapan, keoptimisan.
Mereka yang bersiap menghibahkan diri untuk umat
Mereka yang berusaha untuk tak mengenal lelah, keluh, gamang, gundah gulana
Mereka yang selalu bergegas dan bersiap untuk membawa perubahan untuk dunia

Tak ada rasa takut
Tak ada rasa gentar
Terus maju sampai habis batasnya, mati
Karena ia berani
Dan akan selalu begitu
Seperti matahari





2013
Mari lebih fokus, tata hati dengan lebih baik, perbanyak karya, lalu tebarkan inspirasi.
Let's create amazing things in our life ^___^

Senin, 31 Desember 2012

Janji

Harapan yang baik akan dikabulkan, janji yang baik akan ditepati. 
Insya Allah.


Aku ingat tentang perkataan seorang senior.
Kalau takut, jangan berani-berani.
Kalau berani, jangan taku-takut.

Tahun ini aku belajar bahwa ketika aku memulai sesuatu dengan sedikit saja keraguan, maka ketakutan akan terus membayangi sampai akhir. Padahal, aku tahu bahwa coba saja dulu aku memulainya dengan mantap hati, maka segala masalah yang datang akan bisa terantisipasi dan terselesaikan dengan baik, tentunya dengan kepala dingin.
Di sini, kalimat pertama sudah dilanggar ----- Kalau takut, jangan berani-berani.
Terlalu memaksakan diri akibatnya bisa fatal. Yap, tentunya berjuang dengan keterbatasan dan terlalu memaksakan diri adalah dua hal yang berbeda, bukan?

Aku tahu, bahkan sudah sangat tahu bahwa memilih adalah hal yang tidak boleh diremehkan. Apalagi hanya karena rasa tidak enak hati, hanya karena banyak sekali pertimbangan yang ternyata dapat menggoyahkan diri.
Padahal, ketika aku sudah memulai langkah awal, aku tidak boleh mundur lagi. Yang harus kulakukan adalah melanjutkannya sampai akhir.
Aku yakin, bahkan sudah sangat yakin bahwa apapun halangan yang ada selama perjalaanan ini, semuanya siap kuhadapi.
Aku berani...
Tapi lagi-lagi, ada saja terlalu banyak toleransi yang muncul di sana-sini. 
Aku tahu bahwa aku tidak boleh memikirkan diri sendiri. Aku harus memikirkan dirimu dan dirinya juga ----- diri kita semua. Namun, aku tak sadar kalau aku melupakan satu hal : seharusnya aku lebih mengerti tentang apa yang harus kulakukan dan apa yang tak perlu kulakukan.
Sering ku tak tegas, sering tak kudengar perkataannya, sering kumenolak apa yang sudah diteriakkan oleh sang hati nurani.
Tidak sadar akan mana yang benar, eh?
Aku masih takut-takut.
Kalau berani jangan takut-takut, aku telah mengabaikannya juga.

Belum lagi jika bicara mengenai FOKUS.
Ya ampun, bahkan hal-hal kecil bisa membuyarkan pada kefokusan terhadap hal-hal yang lebih subtil!
Sejak kapan aku pusing terhadap hal-hal yang sepele?
Padahal, coba saja fokus dengan apa yang kukerjakan pasti hasilnya lebih maksimal kan?
Sadar diri, sadar posisi, sadar potensi, sadar keadaan, sadar peluang.
Ternyata hanya perlu sedikit lebih peka kemudian fokus, fokus, dan fokus.
Fokus, tidak sulit untuk dikatakan namun juga tidak mudah untuk dilakukan.
Tapi jika bersungguh-sungguh pasti bisa, Insya Allah.

Miris? Mungkin saja benar, memang miris.
Kau merasa sudah lelah berjuang, tapi kau tak merasa bahwa ada karya yang kau hasilkan.
Hei! Dunia butuh pembuktian, bukan ucapan!
Kau sudah merasa benar, tapi semua menyalahkan.
Hei! Dunia itu cermin diri, maka lihatlah baik-baik!
Kau sudah berpikir jauh ke depan dan menentukan tahap demi tahap untuk mencapainya, tapi yang mendukung tak seberapa.
Hei! Ini dunia tempat berpijak, bukan langit!
Karena kurang sederhana, karena kurang dimengerti, makanya salah paham.
It's really complicated...

Tahun ini adalah tahun teguran.
Ya, aku merasa begitu banyak hal bodoh yang kuperbuat dan baru kusadari menghasilkan bola salju kesalahan yang sedemikian besarnya.
Menyesal?
Ya, setiap orang yang berbuat kesalahan wajib menyesal dan wajib memperbaikinya.
Bukankah Allah Maha Pemaaf? Bukankah setiap yang sudah rusak bisa diperbaiki? Well, walau tak akan kembali seperti semula, aku tahu.
Bersedih?
Oh tidak, aku tak boleh bersedih. Karena banyak juga pelajaran dan kenangan manis yang sudah terpatri dalam memori. Terima kasih, bukan bersedih.
Menangis?
Oh, ayolah. Dunia ini terlalu bahagia untuk ditangisi. Permohonan maaf, bukan menangis.

Terima kasih... 
Untuk pelajaran berharga yang tak tahu akan kudapat darimana kecuali dari sini.
Untuk suka duka yang kau beri.

Untuk nafas semangat yang kau hembuskan.

Untuk tali persahabat yang kau ikatkan.
Untuk semua kata yang mengisnpirasi.
Terima kasih, terima kasih untukmu karena masih bisa bertahan sampai sejauh ini, sampai akhir.

Maaf...
Jika duri kecewa lebih banyak kutebarkan daripada mengabulkan keinginanmu.
Jika terlalu banyak perbedaan dari yang kau kira.
Jika terlalu banyak luka yang kubuat.
Maaf, maaf, maaf...

Kita bukan waktu yang kita punya.
Tapi kita adalah amal yang kita lakukan. 

Setelah kesulitan ada kemudahan.
Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi kesanggupannya.
Begitulah Allah berfirman dalam Al-qur'an dan firman Allah adalah benar.

Jika menjalani kehidupan ini adalah layaknya menulis buku. Maka setelah kita menyelesaikan satu chapter, akan ada lembaran kosong yang tersedia untuk kisah kita selanjutnya. Artinya, masih ada kesempatan untuk terus memperbaiki diri sampai hidup kita berakhir.

Karenanya...
Tahun depan, jika aku diberikan kesempatan lagi. Aku tidak akan main-main lagi karena hidup bukan mainan!
Lebih fokus, lebih telaten, lebih memberikan porsi lebih untuk kemanfaatan orang banyak tanpa lupa mengurus diri sendiri.
Lebih tanggung jawab.
Sudah cukup banyak pelajaran dan teguran jika terlalu banyak lalai dan pura-pura tidak peduli.
Aku bertekad tak akan mengulangi kesalahan di masa lalu dan sekarang.
Intinya, tahun depan adalah tahun penebus kesalalahan di tahun ini.

Bismillah...
Tahun 2013 harus lebih baik & lebih berani, aku janji. Insya Allah, PASTI BISA! 

Sabtu, 15 Desember 2012

Bahkan Mereka pun Masih Bisa Menikmati Hidup


Ini ceritaku saat kemarin praktikum Survey Satelit [Sursat] dengan menggunakan GPS Geodetic pada hari Jum’at, 14 Desember.  8 titik telah ditentukan dan ditandai lewat Google Map : titik dekat Ikan Bakar Cianjur, Taman Diponegoro, Rinjani, Tugu Muda, Mc Donald Pandanaran, Simpang 5, Super Penyet, dan Stasiun Poncol . Kebetulan, tim dimana kubergabung mendapat bagian menjaga titik pengukuran di daerah Simpang 5. Sungguh ini daerah yang bisa dibilang enak. Berada di perkotaan, depan sana ada masjid Baiturrahman, ada mall, jajanan banyak dimana-mana. Biasanya kalau praktikum ‘ngukur’ di daerah yang bisa dibilang agak jauh dari peradaban. Misalnya saja di kebun-kebun atau sungai, dan pastinya tempatnya tidak ramai.

Kami sekelompok tiba di Simpang 5 sekitar pukul 11.00. Sambil menunggu kiriman GPS dari tempat pengukuran yang lain ada di antara kami yang berbincang-bincang, jalan-jalan di mall, atau sekedar jajan untuk menghilangkan rasa lapar. Sebenarnya, pengukuran ini hanya memerlukan waktu yang sebentar saja. 1 kali merekam data satelit hanya membutuhkan waktu 10 menit saja. Jadi lama karena alat yang ada tidak sebanyak jumlah tim yang ada sehingga dalam menggunakan alat harus bergantian. Seharusnya ada 4 alat, namun yang berfungsi hanya 2.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.15 dan kami pun masih berada di daerah yang sama. Setelah selesai shalat ashar, minum es ronde, dan menyusun strategi pengukuran baru, kami mengatur lagi siapa yang masih tetap berjaga di Simpang 5 dan siapa yang akan ke Rinjani. Nah, dan tersisalah 4 orang di Simpang 5. Saya dan tiga orang teman (Eva, Kautsar, David) yang notabenenya sejak awal pemberangkatan memang sudah bersama. Karena alat masih dipakai kelompok lain, kami memutuskan untuk menunggu saja sambil duduk-duduk dan menanti kedatangan 1 lagi teman kami, Rizal, yang membawa mobil untuk pulang.

Karena bosan, akhirnya kuputuskan untuk mampir ke Gramedia. Letaknya tak jauh di balik Masjid Baiturrahman. Sekitar setengah jam saya asyik membaca dan melihat-lihat di Gramedia. Mengingat saya tidak membawa alat komunikasi dan hanya pergi sendiri, jadi kuputuskan saja untuk kembali bergabung bersama 3 orang yang lain.
Ketika kembali, ada 1 hal menarik yang saya lihat. Ada 2 orang anak kecil sedang berayun-ayun di atas rantai besar yang menjadi penyambung antara dua besi pembatas jalan.

Sebentar saja saya lihat, lalu saya kembali duduk bersama Eva, Kautsar, David. Ternyata mereka bertiga pun sedang memperhatikan kedua anak itu. Kuperhatikan lagi, yang satu laki-laki kira-kira berumur 5 tahun dan satu lagi perempuan sekitar berusia 3 tahun. Sepertinya mereka kakak adik. Menurut informasi dari ketiga teman, ternyata mereka berdua sudah bermain bersama itu sedari tadi.

Setelah puas berayun, mereka bermain kejar-kejaran. Tidak, lebih tepatnya sang kakak menendang-nendang gelas kertas bekas minuman lau dikejar oleh sang adik. Mereka sangat terlihat tak terurus, lihat saja kakinya yang sangat kotor, baju yang lusuh, wajah yang kucel. Kulihat ada tumpukan koran di dekat sandal mereka yang ditaruh dekat besi pembatas yang berantai itu. Ah, ternyata mereka loper koran. Bayangkan, anak sekecil itu sudah harus bisa menghasilkan uang! Di saat anak-anak yang lain menikmati masa kecilnya dengan bermain dan mendapat banyak hal yang menyenangkan dari orang tuanya. Melihat mereka tertawa senang, saya dengan teman-teman seakan ikut merasakan kesenangan itu. Hidup itu sekarang, maka nikmatilah. Seakan mereka ingin menyampaikan begitu pada dunia. Namun, di saat yang sama saya merasa miris dengan keadaan mereka.

Puas bermain-main, sang kakak kemudian mengajak adiknya untuk berjualan koran lagi. Mereka mulai menjajakannya pada setiap orang yang dilewatinya, termasuk kami. Ada niat untuk membeli koran itu tapi lebih kupilih untuk mengamatinya saja dulu.

“Terima kasih, nggak dik…”

Lantaran tawarannya itu ditolak, sang kakak semakin semangat untuk menjajakan koran dan bertekad harus ada korannya yang terjual. Mereka mulai menuju ke tempat makan yang penuh dengan orang-orang di emperan jalan itu.

Seorang perempuan berusia sekitar 24-25 tertarik untuk member koran. Mungkin karena kasihan, jadi dia membeli. Kulihat ekspresi sang kakak, dia senang. Beralih pada adiknya, dia lebih senang. Lalu, beberapa koran pun terjual. Mereka terus berjalan ke depan sampai tak dapat lagi kulihat. Penasaran, kuarahkan pandanganku pada jalan bekas mereka lewat. Tak lama kemudian, kakak-beradik itu muncul lagi. Sang adik muncul pertama dengan makanan yang ditusuk oleh tusukan sate sedang mulutnya sibuk mengunyah makanan itu. Jumlah koran di tangan sang kakak pun sudah berkurang. Mereka melewati kami lagi, kali ini dengan jarak yang lebih jauh di depan kami daripada sebelumnya.

Merekapun duduk di dekat besi pembatas lagi. Di belakang mereka ada seorang bapak tua penjual kacang rebus. Si adik melihat terus pada kacang rebus yang mengunung di gerobak itu. Pengertian, sang kakak berdiri disusul sang adik walhasil bapak tua itu dengan kemurahan hatinya member sedikit kacang pada mereka. Mereka duduk lagi. Dengan telaten, sang kakak mengupas kacang untuk adiknya dan diri sendiri tentunya. Tak lama kemudian, kacang pun habis namun sang adik masih ingin lagi. Berdirilah ia lalu berjalan menghampiri bapak itu lagi. Untuk kedua kalinya, bapak tua memberikan kacang lagi sembari tersenyum. Senang, sang adik memberikan kacang itu pada kakaknya dan mereka kembali makan bersama.

Kutunggu saja sampai mereka selesai. Saat ingin menghampiri mereka, langkahku tertahan karena ada 4 orang muslimah berjilbab orange menghampiri mereka terlebih dahulu. Ada yang member uang, ada juga yang permen. 4 orang pun berlalu, dan dengan penuh inisiatif sang kakak kembali mendatangi bapak penjual kacang rebus lalu menyerahkan selembar uang Rp.1000,- untuk membeli kacang. Membeli akan dapat kacang lebih banyak daripada meminta, kan? Dengan sigap, bapak itu mengambil kertas dan membentuknya menjadi kerucut tanpa alas lalu mengisikan banyak kacang ke dalamnya, sampai kertas itu penuh.

Oke.  Saya semakin mantap untuk membeli koran mereka. Hitung-hitung membantu dan kebetulan sekali ada coklat di tas saya. Semoga nanti mereka mau menerimanya, batinku.
Lalu sang kakak menerima kacang itu dan adiknya senang sekali. Tak dapat kudengar apa yang mereka bicarakan, tapi kuyakin sebelum pergi sang kakak mengucapkan terima kasih dulu. Perkiraanku salah, mereka tidak duduk lagi tetapi langsung berjalan menuju masjid.

“Nah, kan mereka pergi. Kesempatan berbuat baik telah terlewat deh.” Kata seorang temanku.

Tidak! Jangan sampai terlewat. Maka langsung aku berjalan menyusul mereka. Mereka berhenti di tengah tangga menuju masjid. Lalu kupanggil dan kuhampiri.

“Dik, kakak boleh beli korannya?”

Yang lebih tua mengangguk, lalu menyodorkan korannya padaku.

“Berapa ini harganya?”

“Seribu kak.”

“Kalau kakak kasih 2000 mau nggak?”

Sorot mata anak ini memancarkan keoptimisan, keberanian, dan pribadi yang kuat. “Nggak kak. Ini harganya cuma seribu.”

Aih, kata-kata anak ini memuatku terenyuh. Seorang bocah saja bisa membedakan mana yang seharusnya jadi haknya dan mana yang tidak. Malu dong seharusnya itu pejabat-pejabat yang koruptor *eh.

Saya tersenyum. “Pinter ya. Kalau nggak mau dikasih uang lebih. Terima coklat dari kakak mau ya?”

Bocah itu tampak berpikir lalu melirik adiknya. “Buat dia aja, kalau dia mau.”

Kusodorkan coklat itu pada adiknya. Alhamdulillah dia mau menerimanya dengan tak lupa mengucapkan terima kasih. Subhanallah… Anak jalanan pun tahu bagaimana cara berterima kasih.

“Dimakan bareng-bareng yaa..” Pesanku sebelum mereka pergi meninggalkanku.

Cerita ini cerita sederhana. Kejadiannya pun mungkin sering terlihat di sekitar teman-teman semua. Tapi, dari sini, sembari praktikum kudapati lagi pelajaran tentang kehidupan. Mereka saja yang masa depannya entah bagaimana, masih saja giat untuk berusaha. Mereka jauh lebih baik daripada orang-orang yang mengemis. Terlebih pengemis yang masih terlihat sehat. Mereka jujur, mereka tahu diri, mereka mandiri walau hidup yang mereka jalani terbilang keras. Tentu berbeda dengan orang yang masih diberi kesempatan sampai sekarang berada di bangku kuliah, menerima kiriman uang tiap minggu atau tiap bulan dari orang tua, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, belajar tinggal belajar. Mereka bisa bertahan, mereka bisa menikmati hidup. Kita? Seharusnya kita bisa lebih dari mereka bukan? Kejadian yang membuatku cukup terenyuh, semoga menginspirasi.

Kamis, 25 Oktober 2012

Berhati Besar

"Dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang selalu benar. 
Karena itu, dibutuhkan hati yang besar untuk memaafkan kesalahan orang lain."


Terik mentari siang hari kadang tak bisa diajak kompromi. Panas. Dan semakin sangat terasa panas bila kau tinggal di daerah yang memiliki pantai, walau tidak dekat dengan pantainya. Apalagi sekarang, musim tidak dapat dengan mudah diprediksi. Seharusnya sudah musim hujan, tapi panas malah terasa semakin menyengat. Tapi kadang hujan, dingin. Lalu panas lagi. Ekstrim, cuacapun bisa ababil. Oke, lupakan tentang musim dan cuaca.
Kau sudah mengerjakan tugasmu dengan baik dan ternyata lebih cepat dari yang diperkirakan. Lalu, bila tak ada fasilitas untuk mencetak file tugasmu, kemana kau akan pergi? Ya, rental komputer dan printer. Kau pergi dengan semangat 45 saking senangnya tugasmu sudah selesai.

Setibanya di sana, tak nampak banyak orang yang sedang menggunakan jasa tersebut. Kau akan tambah senang dong tentunya, merasa mestakung (semesta mendukung). Dalam pikiranmu semua akan berjalan dengan mulus. Kau tancapkan USB mu pada komputer yang menyala di depanmu, membuka file mu, lalu klik print. Tara! Tugasmu tercetak dengan cepat, bertambah senang lagilah hatimu itu. Setelah itu kau langkahkan kakimu menuju seorang pegawai yang sedang ada di meja depan untuk melakukan pembayaran.

"Mas, ini saya sudah selesai print. Minta tolong dijilid ya..." Kau berkata pada pegawai berbaju hitam itu. Tak perlu menunggu lama, pegawai tersebut langsung mengambil beberapa lembar cetakan tugasmu dan membawanya. Kau pun bertanya atau protes dalam hati, lho kok masnya asal ngeloyor aja, emang tahu mau dijilid seperti apa?

Kau lihat pegawai itu, bukannya malah langsung menjilid tugasmu, dia malah menghampiri pegawai yang lain dan membicarakan sesuatu yang entah apa itu. Kau lihat jammu, sudah 3 menit berlalu. Dia melihat ke arahmu. Sedikit agak lega karena kau pikir pegawai itu akan melakukan tugasnya. Dan benar, dia menghampirimu.

"Mau dijilid bagaimana?" Tanyanya. Seperti dugaanmu, dia belum mengerti mau dijilid seperti apa. "Yang depan bening belakangnya biru teknik." Kau beritahu dia. "Ha? Maksudnya?" Iya sih, kau sadar bahwa jawabanmu tadi memang kurang jelas. Tapi, memang biasanya kau menggunakan jasa di situ dan biasanya pegawai di situ sudah pasti mengerti apa yang kau maksud dan akhirnya kau menyimpulkan bahwa pegawai yang sedang melayanimu itu adalah orang baru. Apa mau dikata, ya sudah mari pelan saja.

"Yang depan plastik mika putih bening dan belakangnya bufallo biru teknik." Dia ber-oh ria lalu mengambil yang dimaksud. Alhamdulillah, dia mengerti. Ada lagi sesuatu yang membuatmu harus bersabar. "Berhubung ukurannya tidak sama dengan kertasnya, maka saya akan potong dulu. Mohon ditunggu." Kau mengangguk setuju, lha emang biasanya juga gitu. Yang namanya ngejilid, yang buat ngejilid biasanya lebih besar ukurannya daripada kertas yang kau gunakan untuk mencetak tugasmu.

Kau lihat bagaimana cara dia memotong kertasnya. Belum begitu ahli. Begitu lama, sampai kau pikir lebih baik kau saja yang melakukannya dengan cepat. "Aaaa...!!!!" Tiba-tiba dia heboh sendiri, "Pantesan motongnya susah. Lha wong cutter-nya tumpul. Sebentar ya..." Kau hanya menggeleng-gelengkan kepalamu dan selanjutnya kau lihat dia mengganti pisau pada cutter-nya itu. Kemudian dia kembali memotong kertas tadi. Tangannya gemetar, ragu-ragu. Bagi orang yang sudah naik pitam, pasti akan berkata, "Sebenarnya bisa tidak sih?" Tapi kau yakin bahwa kau tidak akan naik pitam, maka kau memutuskan untuk mengatakan hal-hal seperti itu.

"Mas, mas orang baru ya di sini?" Tanyamu saking sudah gregetannya. Pegawai itu menoleh ke arahmu. "Lho, kok tau?" Jelas tahu lah, biasanya juga sat sit set prung (serba cepat)! Kemudian dia menampakkan pose berpikir, "Ah! Saya tahu, pasti mau gombal siang kan?" Zzzzz.. Kalau ini dunia komik, di belakang kepalamu pasti sudah ada setetes air (sweatdropped). Mendengarnya, kau hanya tersenyum. Tersenyum miris. "Oke, sebentar lagi selesai." Lanjutnya. Menurutmu, sebentar itu berapa mas?

Setelah pergi entah kemana, pegawai itu pun kembali dengan membawa tugasmu yang sudah dijilid. Senyum cerah akhirnya menghias wajahmu lagi, sama seperti saat tadi kau datang ke tempat itu. Bagaimana tidak? Kau hanya membutuhkan waktu untuk mencetak kurang dari 5 menit, untuk menjilid sudah setengah jam kurang 3 menit kau menunggu, dan akhirnya selesai. Akhirnya....

"Sudah selesai saya jilid, silakan di cek dulu." Biasanya, kau tak perlu mengecek pun sudah bisa percaya bahwa yang dikerjakan oleh pegawai di sana sudah baik. Tapi karena pegawai baru, maka kau pun mengecek. Senyum cerahmu luntur seketika. Setelah kau buka halaman pertama, halaman kedua dan selanjutnya terasa janggal. Kau menyadari bahwa halaman kedua dan selanjutnya posisinya terbalik dan itu artinya jilid yang sudah melekat harus dibongkar kembali! Haruskah kau menunggu setengah jam lagi untuk menunggu tugasmu dijilid dengan rapi?

Ingat, kau tidak boleh emosi dan terlalu menyalahkan karena pegawai ini masih belajar. Maka, kau memilih untuk memakluminya saja. Singkat cerita, tugasmu sudah terjilid dengan rapi seperti yang kau inginkan. 

"Jadi, semua ini berapa?" Ketika kau bertanya, wajah pegawai itu menggambarkan ekspresi terkejut. "Li-lima ribu." Jawabnya agak tergagap, seperti ketakutan. "Yakin, mas? Saya minta notanya ya..." Sebenarnya, kau tak masalah, tapi sejenak terlintas untuk mengetesnya sedikit. Dia mengusap keringat yang tiba-tiba menetes dari dahinya. Cuaca memang panas sih atau kau yang tiba-tiba terlihat menakutkan baginya? "Ini.." Dia menyodorkan nota, "Terima kasih, semoga tidak kapok." Lanjutnya. Setelah itu, walau agak kesal karena telah banyak waktu terbuang, kau ayunkan langkahmu menuju kost dan dalam perjalananmu kau yakinkan dirimu bahwa orang tadi baru belajar. Yang namanya orang belajar, kalau salah itu wajar. Kalau dia giat berlatih, pasti kemampuannya bisa jadi sama dengan pegawai-pegawai di sana yang pada dasarnya sudah profesional. Tukang ngeprint, tukang jilid, tukang fotocopy, semua itu terlatih. Setelah itu menjadi lihai dan pelayanannya pun bisa kau rasakan dengan baik. 


Sekian. Semoga bisa mengambil hikmah dari kejadian ini :)

Senin, 13 Agustus 2012

Sakura di Negeriku

Bunga Sakura, bunga asal negeri Jepang yang kemunculannya selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat Jepang karena mekarnya hanya 1 kali dalam setahun yaitu di awal musim semi.

Siklus mekarnya bunga ini lama sekali namun sangat cepat gugurnya. Masyarakat Jepang memaknai bunga Sakura ini dengan beragam versi. Ada yang bilang bahwa bunga ini lambang kesejukan, keheningan, kebahagiaan dan ketenangan. Namun ketika bunganya mulai berguguran ditiup angin, dapat berarti perpisahan.

Dalam arti spiritual dan filosofis kehidupan manusia Jepang, bunga ini adalah simbol kegembiraan dan kesedihan serta mengingatkan manusia untuk selalu bersyukur dalam menghargai kehidupan dan kesedihan.

Ada hidup, ada saatnya mati. Ada saatnya merekah dengan indahnya dan ada saatnya berguguran. Dan itulah yang bunga sakura lakukan, mekar dengan memberikan keindahan bagi jiwa-jiwa yang berkelana. Itulah mengapa di setiap mekarnya bunga sakura, keluarga jepang merayakannya dengan berkumpul bersama, menyusuri taman sembari melakukan renungan dan menikmati hidangan di bawah pohon sakura. Mereka menyebutnya Hanami.


Setiap pohon sakura hanya akan memekarkan bunganya selama 7 sampai 10 hari saja dalam setahun. Setelah itu bunga-bunga ini akan berguguran. Sakura ini banyak memberikan inspirasi filosofis buat orang Jepang. Diantaranya adalah falsafah kemanfaatan, ketulusan dan keberanian. Sakura mengajarkan kemanfaatan sebab kehadirannya memberi keceriaan banyak orang. Pada hari-hari sakura mekar, orang-orang bersuka cita dalam kebersamaan. Sakura yang sepanjang tahun tak pernah “ditoleh” orang, tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Setelah bunga-bunganya berguguran orang pun melupakannya. Tapi sakura tetap hadir lagi ditahun mendatang. Inilah lambang ketulusan orang dalam berkarya. Bagi sakura, kebahagiaannya adalah pada saat bisa memberikan kebahagiaan kepada banyak orang.


Untuk keberaniannya, bagi kaum samurai keindahan sakura justru pada saat gugurnya. Samurai adalah sebutan bagi komunitas pejuang yang hidupnya diabdikan untuk membela keagungan negeri. Bagi mereka kehidupan ini singkat, seperti singkatnya hidup sakura. Dan puncak keindahan perjuangan dalam hidup adalah saat gugur membela kebenaran.
Nah. Sakura di Jepang hanya mekar sekali dalam satu tahun, tapi di negeri nan subur ini (red : Indonesia) lebih canggih, saudara-saudara! Tepatnya di Kebun Raya Cibodas, tumbuhan asal Negeri Matahari itu mekar dua kali dalam setahun. Yaitu pada bulan Agustus-September dan Januari-Februari. Hal ini mungkin terjadi karena iklim di Kebun Raya Cibodas cocok untuk berbunganya Sakura.

 
Dari dulu ingin sekali ke Kebun Raya Cibodas untuk menyaksikan keindahan bunga Sakura. Pernah berencana bersama teman-teman SMA, namun gagal. Tapi alhamdulillah, mission completed pada tanggal 28 Juli 2012 bersama 8 orang teman. Yah, walaupun masih banyak yang kuncup-kuncup -timing-nya nggak pas-, it's ok. Disuruh balik lagi ke sana habis lebaran sama penjaga di sana kalau mau lihat bunga Sakura penuh bermekaran. Hehehe.

Mekarnya bunga Sakura yang frekuensinya lebih sering daripada yang ada di negara asalnya, ini merupakan salah satu bukti bahwa kita harus kembali mengingat bahwa potensi tanah di Indonesia itu memang amazing! Ditambah dengan skill Sumber Daya Manusia yang baik Indonesia akan semakin maju! Kita sama-sama belajar dan berjuang... :D
  • Authoress

    Foto Saya
    Kuningan, Jawa Barat, Indonesia
    Seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya dan mewujudkan mimpi-mimpinya.
  • Hi, Friends!

  • Followers