RSS
Facebook
Twitter

Sabtu, 15 Desember 2012

Bahkan Mereka pun Masih Bisa Menikmati Hidup


Ini ceritaku saat kemarin praktikum Survey Satelit [Sursat] dengan menggunakan GPS Geodetic pada hari Jum’at, 14 Desember.  8 titik telah ditentukan dan ditandai lewat Google Map : titik dekat Ikan Bakar Cianjur, Taman Diponegoro, Rinjani, Tugu Muda, Mc Donald Pandanaran, Simpang 5, Super Penyet, dan Stasiun Poncol . Kebetulan, tim dimana kubergabung mendapat bagian menjaga titik pengukuran di daerah Simpang 5. Sungguh ini daerah yang bisa dibilang enak. Berada di perkotaan, depan sana ada masjid Baiturrahman, ada mall, jajanan banyak dimana-mana. Biasanya kalau praktikum ‘ngukur’ di daerah yang bisa dibilang agak jauh dari peradaban. Misalnya saja di kebun-kebun atau sungai, dan pastinya tempatnya tidak ramai.

Kami sekelompok tiba di Simpang 5 sekitar pukul 11.00. Sambil menunggu kiriman GPS dari tempat pengukuran yang lain ada di antara kami yang berbincang-bincang, jalan-jalan di mall, atau sekedar jajan untuk menghilangkan rasa lapar. Sebenarnya, pengukuran ini hanya memerlukan waktu yang sebentar saja. 1 kali merekam data satelit hanya membutuhkan waktu 10 menit saja. Jadi lama karena alat yang ada tidak sebanyak jumlah tim yang ada sehingga dalam menggunakan alat harus bergantian. Seharusnya ada 4 alat, namun yang berfungsi hanya 2.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.15 dan kami pun masih berada di daerah yang sama. Setelah selesai shalat ashar, minum es ronde, dan menyusun strategi pengukuran baru, kami mengatur lagi siapa yang masih tetap berjaga di Simpang 5 dan siapa yang akan ke Rinjani. Nah, dan tersisalah 4 orang di Simpang 5. Saya dan tiga orang teman (Eva, Kautsar, David) yang notabenenya sejak awal pemberangkatan memang sudah bersama. Karena alat masih dipakai kelompok lain, kami memutuskan untuk menunggu saja sambil duduk-duduk dan menanti kedatangan 1 lagi teman kami, Rizal, yang membawa mobil untuk pulang.

Karena bosan, akhirnya kuputuskan untuk mampir ke Gramedia. Letaknya tak jauh di balik Masjid Baiturrahman. Sekitar setengah jam saya asyik membaca dan melihat-lihat di Gramedia. Mengingat saya tidak membawa alat komunikasi dan hanya pergi sendiri, jadi kuputuskan saja untuk kembali bergabung bersama 3 orang yang lain.
Ketika kembali, ada 1 hal menarik yang saya lihat. Ada 2 orang anak kecil sedang berayun-ayun di atas rantai besar yang menjadi penyambung antara dua besi pembatas jalan.

Sebentar saja saya lihat, lalu saya kembali duduk bersama Eva, Kautsar, David. Ternyata mereka bertiga pun sedang memperhatikan kedua anak itu. Kuperhatikan lagi, yang satu laki-laki kira-kira berumur 5 tahun dan satu lagi perempuan sekitar berusia 3 tahun. Sepertinya mereka kakak adik. Menurut informasi dari ketiga teman, ternyata mereka berdua sudah bermain bersama itu sedari tadi.

Setelah puas berayun, mereka bermain kejar-kejaran. Tidak, lebih tepatnya sang kakak menendang-nendang gelas kertas bekas minuman lau dikejar oleh sang adik. Mereka sangat terlihat tak terurus, lihat saja kakinya yang sangat kotor, baju yang lusuh, wajah yang kucel. Kulihat ada tumpukan koran di dekat sandal mereka yang ditaruh dekat besi pembatas yang berantai itu. Ah, ternyata mereka loper koran. Bayangkan, anak sekecil itu sudah harus bisa menghasilkan uang! Di saat anak-anak yang lain menikmati masa kecilnya dengan bermain dan mendapat banyak hal yang menyenangkan dari orang tuanya. Melihat mereka tertawa senang, saya dengan teman-teman seakan ikut merasakan kesenangan itu. Hidup itu sekarang, maka nikmatilah. Seakan mereka ingin menyampaikan begitu pada dunia. Namun, di saat yang sama saya merasa miris dengan keadaan mereka.

Puas bermain-main, sang kakak kemudian mengajak adiknya untuk berjualan koran lagi. Mereka mulai menjajakannya pada setiap orang yang dilewatinya, termasuk kami. Ada niat untuk membeli koran itu tapi lebih kupilih untuk mengamatinya saja dulu.

“Terima kasih, nggak dik…”

Lantaran tawarannya itu ditolak, sang kakak semakin semangat untuk menjajakan koran dan bertekad harus ada korannya yang terjual. Mereka mulai menuju ke tempat makan yang penuh dengan orang-orang di emperan jalan itu.

Seorang perempuan berusia sekitar 24-25 tertarik untuk member koran. Mungkin karena kasihan, jadi dia membeli. Kulihat ekspresi sang kakak, dia senang. Beralih pada adiknya, dia lebih senang. Lalu, beberapa koran pun terjual. Mereka terus berjalan ke depan sampai tak dapat lagi kulihat. Penasaran, kuarahkan pandanganku pada jalan bekas mereka lewat. Tak lama kemudian, kakak-beradik itu muncul lagi. Sang adik muncul pertama dengan makanan yang ditusuk oleh tusukan sate sedang mulutnya sibuk mengunyah makanan itu. Jumlah koran di tangan sang kakak pun sudah berkurang. Mereka melewati kami lagi, kali ini dengan jarak yang lebih jauh di depan kami daripada sebelumnya.

Merekapun duduk di dekat besi pembatas lagi. Di belakang mereka ada seorang bapak tua penjual kacang rebus. Si adik melihat terus pada kacang rebus yang mengunung di gerobak itu. Pengertian, sang kakak berdiri disusul sang adik walhasil bapak tua itu dengan kemurahan hatinya member sedikit kacang pada mereka. Mereka duduk lagi. Dengan telaten, sang kakak mengupas kacang untuk adiknya dan diri sendiri tentunya. Tak lama kemudian, kacang pun habis namun sang adik masih ingin lagi. Berdirilah ia lalu berjalan menghampiri bapak itu lagi. Untuk kedua kalinya, bapak tua memberikan kacang lagi sembari tersenyum. Senang, sang adik memberikan kacang itu pada kakaknya dan mereka kembali makan bersama.

Kutunggu saja sampai mereka selesai. Saat ingin menghampiri mereka, langkahku tertahan karena ada 4 orang muslimah berjilbab orange menghampiri mereka terlebih dahulu. Ada yang member uang, ada juga yang permen. 4 orang pun berlalu, dan dengan penuh inisiatif sang kakak kembali mendatangi bapak penjual kacang rebus lalu menyerahkan selembar uang Rp.1000,- untuk membeli kacang. Membeli akan dapat kacang lebih banyak daripada meminta, kan? Dengan sigap, bapak itu mengambil kertas dan membentuknya menjadi kerucut tanpa alas lalu mengisikan banyak kacang ke dalamnya, sampai kertas itu penuh.

Oke.  Saya semakin mantap untuk membeli koran mereka. Hitung-hitung membantu dan kebetulan sekali ada coklat di tas saya. Semoga nanti mereka mau menerimanya, batinku.
Lalu sang kakak menerima kacang itu dan adiknya senang sekali. Tak dapat kudengar apa yang mereka bicarakan, tapi kuyakin sebelum pergi sang kakak mengucapkan terima kasih dulu. Perkiraanku salah, mereka tidak duduk lagi tetapi langsung berjalan menuju masjid.

“Nah, kan mereka pergi. Kesempatan berbuat baik telah terlewat deh.” Kata seorang temanku.

Tidak! Jangan sampai terlewat. Maka langsung aku berjalan menyusul mereka. Mereka berhenti di tengah tangga menuju masjid. Lalu kupanggil dan kuhampiri.

“Dik, kakak boleh beli korannya?”

Yang lebih tua mengangguk, lalu menyodorkan korannya padaku.

“Berapa ini harganya?”

“Seribu kak.”

“Kalau kakak kasih 2000 mau nggak?”

Sorot mata anak ini memancarkan keoptimisan, keberanian, dan pribadi yang kuat. “Nggak kak. Ini harganya cuma seribu.”

Aih, kata-kata anak ini memuatku terenyuh. Seorang bocah saja bisa membedakan mana yang seharusnya jadi haknya dan mana yang tidak. Malu dong seharusnya itu pejabat-pejabat yang koruptor *eh.

Saya tersenyum. “Pinter ya. Kalau nggak mau dikasih uang lebih. Terima coklat dari kakak mau ya?”

Bocah itu tampak berpikir lalu melirik adiknya. “Buat dia aja, kalau dia mau.”

Kusodorkan coklat itu pada adiknya. Alhamdulillah dia mau menerimanya dengan tak lupa mengucapkan terima kasih. Subhanallah… Anak jalanan pun tahu bagaimana cara berterima kasih.

“Dimakan bareng-bareng yaa..” Pesanku sebelum mereka pergi meninggalkanku.

Cerita ini cerita sederhana. Kejadiannya pun mungkin sering terlihat di sekitar teman-teman semua. Tapi, dari sini, sembari praktikum kudapati lagi pelajaran tentang kehidupan. Mereka saja yang masa depannya entah bagaimana, masih saja giat untuk berusaha. Mereka jauh lebih baik daripada orang-orang yang mengemis. Terlebih pengemis yang masih terlihat sehat. Mereka jujur, mereka tahu diri, mereka mandiri walau hidup yang mereka jalani terbilang keras. Tentu berbeda dengan orang yang masih diberi kesempatan sampai sekarang berada di bangku kuliah, menerima kiriman uang tiap minggu atau tiap bulan dari orang tua, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, belajar tinggal belajar. Mereka bisa bertahan, mereka bisa menikmati hidup. Kita? Seharusnya kita bisa lebih dari mereka bukan? Kejadian yang membuatku cukup terenyuh, semoga menginspirasi.

0 komentar:

  • Authoress

    Foto Saya
    Kuningan, Jawa Barat, Indonesia
    Seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya dan mewujudkan mimpi-mimpinya.
  • Hi, Friends!

  • Followers